Gianyar, Melalui kolaborasi Forum Pengurangan Risiko Bencana (FPRB) Desa, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten, dan lintas sektor, kegiatan Hari Kesiapsiagaan Bencana (HKB) Nasional 2026 mendorong peran aktif komunitas dan sekolah dalam membangun budaya siaga bencana.
Upaya ini menjadi krusial mengingat Indonesia menduduki peringkat ke-2 sebagai negara paling rentan bencana di dunia menurut World Risk Report 2023.
Di tingkat regional, Provinsi Bali tercatat masuk dalam sepuluh wilayah dengan kejadian cuaca ekstrem tertinggi pada tahun 2024, mencakup lebih dari 80 insiden hidrometeorologi seperti banjir bandang dan tanah longsor.
Menanggapi kerentanan ini, Yayasan IDEP Selaras Alam bersama berbagai mitra menyelenggarakan simulasi evakuasi mandiri di SMPN 1 Tampaksiring, Gianyar, pada Minggu, 26 April 2026.
Menguji Ketangguhan dari Bangku Sekolah
Kegiatan yang bertepatan dengan puncak peringatan HKB 2026 bertema “Siap Untuk Selamat” ini melibatkan simulasi gempa bumi dan latihan pemadaman api mandiri.
Peserta tidak hanya mendapatkan teori, tetapi juga melakukan praktik evakuasi serentak pada pukul 10.00 waktu setempat.
I Ketut Sumartana, Wakil Kepala Sekolah Kesiswaan SMPN 1 Tampaksiring, menekankan pentingnya edukasi ini bagi siswa.
“Tentu saja dengan adanya kegiatan simulasi seperti ini, sangat bermanfaat, terutama untuk pendidikan anak-anak, biar tahu lebih dengan bagaimana cara mereka mengatasi atau menangani sehingga mereka bisa siap dengan adanya bencana yang hadir nanti,” ujarnya.
Sinergi Multi-Pihak di Lapangan
Keberhasilan simulasi ini didorong oleh kolaborasi unsur pentahelix, termasuk Pemadam Kebakaran Gianyar dan BPBD Kabupaten Gianyar.
Made Parwita dari Pemadam Kebakaran Gianyar menyoroti pentingnya kesiapan awal di sekolah sebelum bantuan profesional tiba.Sebelum Damkari itu datang, sekolah ini sudah siap untuk melakukan penanganan awal, supaya tidak lagi menyebar kebakarannya,” jelasnya mengenai urgensi pelatihan penanganan api dasar bagi siswa menengah.
Dewa Agung Pastika dari FPRB Desa Manukaya juga mengapresiasi kerja sama lintas sektor ini sebagai langkah nyata penanggulangan risiko.
“Ini merupakan kolaborasi yang sangat bagus. Harapannya, mungkin kalau bisa kan, jangan hanya di sekolah atau di desanya, mungkin kita bisa bikin simulasi yang tingkatnya melibatkan lebih banyak orang,” tambahnya.
Membangun Budaya Sadar Bencana yang Berkelanjutan.Pemerintah daerah melalui BPBD Kabupaten Gianyar terus berupaya meningkatkan jumlah Desa Tangguh Bencana (DESTANA) di wilayahnya.
Hingga saat ini, pembentukan lembaga di tingkat desa menjadi garda terdepan dalam merespons ancaman bencana secara mandiri.I Gusti Ngurah Dibya Presasta, Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Kabupaten Gianyar, menyatakan bahwa lembaga tingkat desa sangat membantu peran pemerintah daerah.
“Terbentuknya lembaga-lembaga ini di tingkat desa sangat membantu peran pemerintah daerah dalam menghadapi kesiapsiagaan bencana, terutama sebagai detektor awal bilamana terjadi kejadian-kejadian bencana,” ungkapnya.
Kegiatan ini merupakan bagian dari rangkaian nasional yang melibatkan ribuan sekolah di seluruh Indonesia sebagai upaya mengejawantahkan misi memperkuat pembangunan sumber daya manusia yang tangguh menghadapi tantangan iklim dan bencana.***

