Kisah Samuel Doko di Wasur Papua Bugarkan Semangat Ketekunan Meraih Sukses

MeraukeĀ  – Yayasan Merah Pusaka Stratejik Indonesia (MPSI) menggelar Kelas Inspirasi sebagai bagian dari upaya memperkuat motivasi belajar dan karakter generasi muda di wilayah perbatasan, Minggu (25/7/2026). Kegiatan yang berlangsung di SMAN Plus Satu Atap Wasur, Distrik Merauke, Kabupaten Merauke, Papua Selatan, menghadirkan Aparatur Sipil Negara (ASN) Pemerintah Provinsi Papua Selatan, Samuel Doko, untuk berbagi perjalanan hidupnya kepada para siswa.

Koordinator Kajian Kebijakan MPSI, Annas Fitrah Akbar, mengatakan bahwa kelas inspirasi sengaja menghadirkan sosok yang memiliki kedekatan pengalaman dengan kehidupan masyarakat setempat.

Menurut dia, cerita yang lahir dari pengalaman nyata akan lebih mudah diterima sekaligus membangun optimisme para pelajar.

“Kami ingin anak-anak melihat bahwa keberhasilan tidak hanya dimiliki oleh mereka yang lahir dengan segala kemudahan. Samuel Doko adalah putra Papua yang melalui proses panjang, penuh tantangan, hingga akhirnya berhasil menjadi ASN. Kisah seperti inilah yang mampu menumbuhkan keyakinan bahwa masa depan dapat diperjuangkan,” ujar Annas dalam keterangan kepada wartawan, Minggu (25/7/2026).

Di hadapan para siswa, Samuel mengisahkan perjalanan hidupnya sejak menempuh pendidikan tinggi di salah satu perguruan tinggi negeri di Jakarta. Baginya, kesempatan kuliah di luar Papua merupakan langkah awal untuk membuka jalan mengubah masa depan, bukan akhir dari perjuangan.

“Usai menyelesaikan pendidikan, Samuel memutuskan kembali ke kampung halamannya dengan harapan dapat mengabdikan ilmu yang diperoleh. Namun, kenyataan tidak berjalan sesuai harapan. Kesempatan menjadi ASN belum datang, sementara tuntutan hidup terus berjalan”, katanya.

Dalam situasi tersebut, ia memilih tetap bekerja. Samuel bergabung sebagai penyelenggara pemilu dan menjalankan berbagai tugas hingga ke wilayah-wilayah pedalaman Papua. Dengan honor yang terbatas, ia menempuh perjalanan panjang melewati medan yang sulit demi memastikan proses demokrasi dapat berlangsung dengan baik.

“Saya pernah berada pada titik ketika gelar sudah saya miliki, tetapi pekerjaan tetap belum ada. Banyak orang mengira setelah lulus kuliah hidup akan langsung berubah. Faktanya, saya harus memulai dari pekerjaan yang sederhana, bahkan dengan penghasilan yang terbatas. Namun saya percaya, tidak ada proses yang sia-sia selama kita menjalaninya dengan sungguh-sungguh,” kata Samuel.

Ia mengaku tidak jarang merasakan keraguan dan kelelahan. Meski demikian, ia memilih untuk terus melangkah karena meyakini bahwa setiap pengalaman akan menjadi bekal bagi perjalanan hidup berikutnya.

“Saya belajar bahwa kesempatan tidak selalu datang ketika kita menginginkannya. Karena itu jangan berhenti hanya karena belum berhasil. Teruslah belajar, terus bekerja, dan jangan malu memulai dari bawah. Suatu saat perjuangan itu akan menemukan jalannya,” ujarnya.

Bagi Annas, kisah Samuel memberikan pelajaran penting tentang arti ketekunan dan daya juang. Menurut dia, generasi muda Papua perlu diyakinkan bahwa keterbatasan bukanlah alasan untuk menyerah, melainkan tantangan yang harus dihadapi dengan kerja keras dan pendidikan.

“Kehidupan memang harus diperjuangkan. Tidak semua orang langsung sampai pada tujuan setelah lulus sekolah atau kuliah. Ada yang harus melewati penolakan, bekerja dengan penghasilan yang terbatas, bahkan mengabdi di tempat-tempat yang jauh dari kenyamanan. Namun justru proses itulah yang membentuk karakter dan ketangguhan seseorang,” kata Annas.

Ia menambahkan, pembangunan Papua tidak hanya diukur dari pembangunan fisik, tetapi juga dari lahirnya generasi muda yang memiliki kepercayaan diri, semangat belajar, dan keberanian untuk kembali membangun daerahnya.

“Kami berharap anak-anak Wasur dan Papua pada umumnya akan memahami bahwa pendidikan bukan sekadar memperoleh ijazah, tetapi membangun kapasitas diri agar mampu memberi manfaat bagi masyarakat. Ketika mereka melihat ada putra Papua yang pernah mengalami kesulitan yang sama, tetapi tetap bertahan hingga berhasil mengabdi sebagai ASN, maka mereka akan percaya bahwa mimpi itu bukan sesuatu yang mustahil,” ujar Annas.

Melalui program Kelas Inspirasi, MPSI berkomitmen menghadirkan lebih banyak tokoh dari berbagai bidang untuk berbagi pengalaman kepada pelajar di Papua.

“Harapannya, kisah-kisah perjuangan tersebut dapat menumbuhkan optimisme, memperkuat karakter, serta mendorong lahirnya generasi muda Papua yang siap bersaing tanpa meninggalkan semangat mengabdi kepada tanah kelahirannya”, pungkasnya.***

Share Now!!

blank

Balibersuara.com merupakan portal berita aktual masyarakat Bali.
Menghubungkan Bali melalui berita dengan informasi terkini seputar politik, pendidikan,
tekno & sains, bola & sport, pariwisata dan otomotif.

Ā© 2026 BALIBERSUARA. ALL RIGHTS RESERVED.

Scroll to Top