MERAUKE – Yayasan Merah Pusaka Stratejik Indonesia (MPSI) menilai pembangunan di wilayah perbatasan tidak cukup hanya diwujudkan melalui pembangunan infrastruktur, tetapi juga harus diiringi dengan investasi pada sumber daya manusia (SDM), khususnya generasi muda yang akan menjadi penggerak pembangunan di masa depan.
Komitmen tersebut diwujudkan MPSI melalui penyaluran bantuan paket bahan makanan kepada para pelajar di SMK Pertanian YPK Sota, Kabupaten Merauke, Papua Selatan, yang dibarengi dengan kegiatan Kelas Inspirasi, penguatan motivasi belajar, dan advokasi pendidikan, Minggu (26/7/2026).
Koordinator Kajian Kebijakan MPSI, Annas Fitrah Akbar, mengatakan perhatian terhadap pelajar di wilayah perbatasan merupakan investasi jangka panjang bagi kemajuan Papua dan Indonesia. Menurutnya, anak-anak di kawasan perbatasan memiliki hak dan peluang yang sama untuk memperoleh pendidikan berkualitas serta mengembangkan potensi dirinya.
“Pelajar di perbatasan adalah aset bangsa. Mereka perlu mendapatkan dukungan agar dapat tumbuh menjadi sumber daya manusia yang unggul, berkarakter, dan mampu menjadi penggerak pembangunan di daerahnya. Membangun Papua harus dimulai dari membangun manusianya,” kata Annas, Senin (27/7/2026).
Ia menjelaskan, bantuan bahan makanan yang diberikan MPSI bukan sekadar bentuk kepedulian sosial, tetapi juga bagian dari upaya menciptakan lingkungan belajar yang lebih baik bagi para pelajar. Dukungan terhadap kebutuhan dasar, menurutnya, menjadi salah satu faktor penting dalam menjaga semangat belajar dan meningkatkan kualitas pendidikan.
“Kami ingin menunjukkan bahwa kepedulian terhadap pendidikan tidak hanya diwujudkan melalui kata-kata, tetapi juga melalui tindakan nyata. Bantuan ini merupakan simbol bahwa perjuangan anak-anak di perbatasan untuk meraih pendidikan yang lebih baik adalah tanggung jawab bersama,” ujarnya.
Dalam kesempatan tersebut, Tim MPSI juga mengajak para pelajar untuk terus memiliki cita-cita yang tinggi serta tidak menjadikan keterbatasan geografis sebagai penghalang untuk meraih masa depan.
“Melalui Kelas Inspirasi, para siswa diberikan motivasi mengenai pentingnya pendidikan, kepemimpinan, dan pengembangan karakter. Selain itu, MPSI memperkenalkan peluang melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi, pentingnya membangun kompetensi, serta peran generasi muda dalam mendukung pembangunan daerah”, jelasnya.
Sebagai bagian dari kegiatan riset advokasi, MPSI juga menyebarkan kuesioner kepada para pelajar untuk memetakan motivasi belajar, tantangan akses pendidikan, serta aspirasi mereka terhadap pembangunan di wilayah perbatasan.
“Hasil survei tersebut akan menjadi bahan analisis dan rekomendasi kebijakan yang mendorong peningkatan kualitas pendidikan di Papua Selatan”, katanya.
Annas menegaskan bahwa pembangunan nasional akan semakin kuat apabila kawasan perbatasan mampu melahirkan generasi muda yang terdidik, mandiri, dan memiliki kepedulian terhadap daerahnya.
“Perbatasan merupakan beranda depan Indonesia. Karena itu, perhatian terhadap pendidikan generasi mudanya tidak boleh tertinggal. Ketika mereka memperoleh dukungan yang memadai, memiliki motivasi belajar yang tinggi, dan mendapatkan kesempatan untuk berkembang, mereka akan menjadi aktor utama yang menggerakkan pembangunan sekaligus memperkuat masa depan Papua dan Indonesia,” tutupnya.***

