Balibersuara.com – Saat ini di media sosial banyak yang membandingkan keramaian Bali dan Yogyakarta (Jogja) saat libur Natal dan Tahun Baru (Nataru). Kunjungan wisatawan ke Yogya dinilai jauh lebih banyak dari pada ke Bali.
Suasana di Malioboro yang dipenuhi pengunjung saat malam hari dengan berbagai hiburan seperti musik di jalanan, orang menari dan bernyanyi bersama, larut menikmati suasana Jogja. Kota ini menjadi titik kumpul orang se Indonesia.
Kemudian mall, pusat kuliner juga tak kalah ramai, keramaian di jalan raya juga tak kalah, baik di dalam kota maupun di jalan jalan – jalan menuju kota terlihat padat merayap.
Sedangkan Bali dinilai oleh warga setempat biasa saja, seorang sopir di media sosial bilang Bali sepi saat Nataru, kedatangan di Bandara juga terlihat tidak sepadat Nataru di tahun – tahun sebelumnya. Bahkan banyak yang share jika penerbangan ke Thailand dari Bali yang ramai, artinya banyak wisatawan ke luar Bali.
Bali dibilang sepi tidak sepenuhnya salah, tapi tidak sepenuhnya benar. Kedatangan wisatawan melalui bandara masih ramai, baik wisman maupun wisnus, Menurut data Bandara Pada 24 Desember 2025 70.746 orang tiba di Bali, wisman 40.203 orang, dan wisnus 30.543 orang. Naik dibandingkan 24 Desember 2024 yang jumlahnya 65.044 orang.
Akan tetapi memang ada anomali di perjalanan melalui laut yakni di Pelabuhan Gilimanuk – Ketapang. ASDP selaku pengelola Pelabuhan mencatat ada fenomena yang tidak biasa, dimana tahun ini pertumbuhan penumpang keluar Bali lebih besar dari penumpang yang masuk ke Bali, walaupun secara angka masih lebih besar yang masuk ke Bali, akan tetapi turun jika dibandingkan Nataru 2024.
Dalam rilis ASDP, penumpang dari Gilimanuk – Ketapang sejumlah 22.846 orang, naik 4,4 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Kemudian dari arah sebaliknya total penumpang 24.432 orang. Menurut ASDP penumpang dari Jawa ke Bali turun dibandingkan libur Nataru sebelumnya, walaupun ASDP tidak menyebutkan berapa persen penurunannya.
Libur Nataru yang bersamaan dengan libur sekolah bisa jadi membuat banyak warga dari Jawa yang bekerja ke Bali memilih mudik sambil berlibur di Jawa, karena libur sekolah cukup panjang, hingga minggu pertama Januari.
Terlepas dari data – data di atas, dan benar tidaknya Bali sepi dan Jogja lebih ramai. Ada sisi lain yang harus kita akui Yogya saat ini lebih baik dari Bali saat ini, yakni infrastruktur.
Bagi yang pernah ke Yogya dan Bali tahun ini (2025), pasti merasakan Saat ini infrastruktur di Yogya jauh lebih baik dibanding Bali. Di Yogya jalan sedang mulus-mulusnya, misalnya Jalan dari Bandara NYIA, Kulon Progo ke kota Jogja itu mulus sekali, sepertinya baru diaspal, kemudian jalan dalam kota juga terbilang baik. Tidak hanya itu, Jalan di Sleman, Gunungkidul, Bantul dan di Kabupaten lainnya juga mulus. Bahkan Yogya membuka jalan baru seperti Jalan baru Sleman – Gunung Kidul yang viral itu, jalannya lebar dan mulus.
Kenapa Jogja bisa membangun sebagus itu? Ternyata Sultan yang Gubernur memanfaatkan dana keistimewaan yang dari APBN cukup baik, besarnya Rp1 triliun per tahun. Dialokasikan untuk bangun jalan, perbaikan jalan lama, dan perbaikan jalan yang mengakses pariwisata. Di beberapa ruas jalan yang baru dibuka, tertulis jalan tersebut dibangun dari dana Keistimewaan, pemberitahuan sekaligus sebagai bentuk pertanggungjawaban publik. Jalan yang mulus tentu membuat wisatawan senang, nyaman berkendara di Yogya.
Selain itu, akses ke Yogya harus diakui didukung oleh Tol Trans Jawa yang terus diperpanjang, memangkas waktu perjalanan, belum lagi kereta api yang stasiunnya langsung di jantung kota Yogya.
Lalu bagaimana dengan Bali?,Di periode pertama Gubernur Koster, pemerintah membangun jalan shortcut Mengwi – Singaraja, tujuannya untuk memangkas waktu perjalanan dari Badung ke Singaraja, agar wisatawan lebih banyak ke Bali Utara. Jalan itu juga membelah bukit, untuk mengurangi banyak tikungan tajam.
Akan tetapi, jalan raya penting sedang tidak bagus. Bahkan perbaikan jalan raya entah itu jalan nasional, Provinsi, Kota/Kabupaten lambat. Lihat jalan nasional Gilimanuk – Mengwi itu, jalannya sudah banyak berlubang, bahkan sudah membahayakan pengendara, terutama sepeda motor. Sekian tahun belum ada perbaikan menyeluruh, hanya tambal sulam, rusak lagi saat puluhan tronton lewat.
Pemerintah berjanji bangun tol Gilimanuk – Mengwi, mungkin karena itu jalan yang ada sekarang tidak diperbaiki. Gubernur sudah bebaskan lahan ratusan hektar, tapi tak kunjung dimulai, pernah ground breaking habis itu hilang. Pemilik lahan bingung, lahan sudah tidak boleh dimanfaatkan namun pembangunan tidak kunjung jalan. Sementara Penlok berakhir 2026. Jika Penlok berakhir maka bisa dibilang otomatis terhenti.
Kemudian jalan dalam kota Denpasar – Badung sudah over kapasitas, di Badung jalan bagus secara kualitas tapi sempit, sehingga menimbulkan kemacetan. Di Denpasar, banyak ruas jalan yang rusak, berlubang, perbaikan terkesan lambat karena padatnya trafik lalu lintas, sehingga waktu pengerjaan hanya malam hari.
Selain tol, pemerintah juga berjanji membangun LRT dari Bandara – Kuta – Seminyak – Canggu – Tanah Lot. Sempat ground breaking tapi setelah itu hilang juga, bahkan Air Askara, yang mantan pejabat garuda itu, sempat ditunjuk mengomandani pembangunan, tapi akhirnya mundur, entah apa sebabnya. Sampai saat ini tidak ada kepastian, lokasi ground breakingnya pun sudah dipagari.
Bali butuh infrastruktur yang lebih baik, transportasi publik, khususnya Bali Selatan. Jika pembangunan hanya murni hitung – hitungan bisnis, maka hanya di Jawa ada tol, kereta api, LRT/MRT. Pemerintah harus membangun transportasi publik yang memadai di Bali, walaupun mungkin dari segi bisnis tidak untung, tapi bisa menjadi penyelamat pariwisata Bali, yang sudah banyak menyumbang devisa itu

