Kendari – Akademisi IAIN Kendari, La Ode Anhusadar, mengajak generasi muda Indonesia untuk kembali menumbuhkan optimisme dan memperkuat karakter kebangsaan yang berlandaskan nilai-nilai Pancasila di tengah derasnya arus informasi digital yang kerap memicu sikap pesimistis dan saling menyalahkan.
Menurut La Ode Anhusadar, peringatan Hari Lahir Pancasila setiap 1 Juni seharusnya tidak hanya dimaknai sebagai agenda seremonial tahunan, tetapi juga menjadi momentum refleksi nasional untuk menghidupkan kembali semangat persatuan, gotong royong, dan keyakinan terhadap masa depan bangsa.
“Hari Lahir Pancasila mengingatkan kita bahwa Indonesia dibangun di atas fondasi optimisme para pendiri bangsa. Mereka mampu mempersatukan perbedaan suku, agama, budaya, dan bahasa dalam satu cita-cita besar bernama Indonesia. Semangat optimisme itulah yang perlu diwariskan kepada generasi muda saat ini,” kata La Ode Anhusadar, Selasa (2/6/2026).
Ia menilai perkembangan teknologi informasi telah memberikan banyak manfaat bagi masyarakat.
“Namun di sisi lain, derasnya arus informasi juga menghadirkan tantangan berupa penyebaran narasi negatif, disinformasi, serta budaya sinisme yang berpotensi menggerus semangat kebangsaan”, ucapnya.
Menurutnya, ruang digital saat ini sering kali lebih memberi tempat kepada konten yang memicu kemarahan, kecurigaan, dan pesimisme dibandingkan konten yang membangun harapan dan solusi.
“Kita menyaksikan bagaimana narasi menyalahkan sering kali lebih cepat viral dibandingkan gagasan yang menawarkan jalan keluar. Jika kondisi ini terus dibiarkan, generasi muda akan tumbuh dengan keyakinan bahwa tidak ada yang bisa diperbaiki. Padahal Pancasila mengajarkan semangat gotong royong dan ikhtiar bersama untuk menyelesaikan persoalan bangsa,” ujarnya.
La Ode juga mengingatkan pentingnya menjaga etika komunikasi di ruang publik, termasuk dalam berbagai produk budaya populer yang beredar di masyarakat. Ia menilai penggunaan diksi yang kasar, merendahkan, dan penuh kebencian berpotensi memengaruhi cara pandang masyarakat terhadap sesama.
“Bahasa bukan sekadar alat komunikasi, tetapi juga cerminan peradaban. Ketika ruang publik dipenuhi ujaran yang merendahkan dan memperuncing perbedaan, maka nilai kemanusiaan dan kebersamaan akan semakin terkikis. Karena itu, kita perlu membangun budaya dialog yang lebih santun, kritis, dan konstruktif,” jelasnya.
Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa kritik terhadap kebijakan publik merupakan bagian penting dari demokrasi. Namun kritik yang sehat harus disertai data, argumentasi, dan niat untuk memperbaiki keadaan, bukan sekadar membangun pesimisme kolektif.
“Pancasila tidak mengajarkan kita untuk menutup mata terhadap masalah. Sebaliknya, Pancasila mengajarkan keberanian untuk mengoreksi kekurangan dengan cara yang beradab dan bertanggung jawab. Kritik boleh, bahkan perlu. Tetapi kritik harus melahirkan solusi, bukan hanya memperpanjang pesimisme,” tegasnya.
La Ode Anhusadar mengajak seluruh elemen masyarakat, khususnya generasi muda, untuk menjadi generasi optimis yang mampu memanfaatkan teknologi secara bijak, menyebarkan energi positif, serta menjaga semangat persatuan di tengah berbagai tantangan zaman.
“Indonesia membutuhkan generasi yang percaya pada masa depan bangsanya. Generasi yang tidak mudah terprovokasi oleh narasi kebencian, tidak terjebak dalam budaya menyalahkan, dan tetap memiliki keyakinan bahwa setiap persoalan dapat diselesaikan melalui kerja sama. Itulah makna Pancasila yang sesungguhnya, yakni menghadirkan harapan, persatuan, dan optimisme dalam kehidupan berbangsa dan bernegara,” pungkasnya.***

